Senin, 09 Juni 2008

Soal IPO Adaro, Bapepam Minta Opini Hukum

Jakarta-Badan Pengawas Pasar Modal/Lembaga Keuangan (Bapepam/LK) ingin bersikap independen dengan meminta opini hukum terlebih dahulu dari konsultan hukum sebelum memberikan izin IPO (penawaran saham perdana) kepada PT Adaro Energy selaku calon emiten.

Pernyataan efektif dari Bapepam diberikan setelah ada opini dari konsultan hukum tersebut. “Saya tidak mengatakan menunda. Sekarang sedang ditelaah karena ini masalah kompleks yang menyangkut soal hukum, jadi saya sedang meminta opini hukum dari konsultan hukum independen tentang sengketa hukum Adaro dengan pihak-pihak lain,” kata Ketua Bapepam/LK Fuad Rahmany, Selasa (3/6).
Dia menegaskan dirinya tidak mau terpancing ke wilayah politik mengenai hak angket yang diajukan sejumlah anggota DPR terkait rencana IPO Adaro.
“Saya tidak mau tahu, pokoknya saya independen. Saya akan transparan dan tidak ada pihak yang akan menekan saya, itu saja. Pokoknya semua sesuai aturan saja,” katanya. Mengenai jadwal keluar pernyataan efektif IPO Adaro, ia menjawab, ”Saya tidak tahu karena mereka masih banyak masalah,” ujarnya.
Namun dalam rapat dengan Komisi XI DPR kemarin, ia mengaku senang jika ada perusahaan besar masuk bursa, meski tetap harus hati-hati memberikan pernyataan efektif karena masalah sengketa saham yang membelit Adaro. “Kita kan senang juga perusahaan sebesar Adaro ini masuk pasar modal karena market capital bisa lebih besar. Tapi jangan bermasalah nanti di masa depan,” kata Fuad.
Ia menggarisbawahi dalam masalah Adaro, Bapepam hanya ingin keterbukaan dan tetap netral tanpa memihak siapa pun. Oleh karena itu, Bapepam sejak minggu lalu telah meminta konsultan hukum independen untuk mengkaji masalah sengketa hukum yang ada di Adaro.
Hasil dari kajian tersebut diharapkan bisa keluar 1-2 minggu ini. “Kita tidak mau ada saham-saham IPO yang masih terkait dengan masalah hukum,” katanya.
Fuad mengatakan untuk masalah penerbitan pembebasan pajak atau tax clearence Adaro, menurut Fuad, pihaknya sudah memintanya ke Ditjen Pajak. “Kita sudah minta Adaro meminta Dirjen Pajak mengeluarkan tax clearence,” tandasnya. Yang jelas, IPO Adaro tidak ada perlakuan istimewa dan tetap melalui proses normal dan mengikuti aturan yang ada.
Dirjen Pajak Darmin Nasution di Gedung DPR menyatakan Adaro Group sudah menyatakan akan membayar kekurangan setoran pajak. Adaro juga akan memperbaiki Surat Pemberitahuan (SPT) pajaknya. Adaro merupakan salah satu dari tiga perusahaan batu bara yang pembayaran pajaknya kurang. Kekurangan pajak tiga perusahaan ini mencapai Rp 2,4 triliun.
Dan awal tahun ini mereka sudah mulai membayar dari tiga perusahaan itu jumlah kurang bayarnya sekitar Rp 2,4 triliun dan sebagian besar sudah diselesaikan. Batasnya itu sampai akhir tahun untuk diselesaikan jadi tiga perusahaan, itu sudah termasuk Adaro. “Jadi mengenai Adaro, buat pajak sudah selesai, kita juga ada kebijakan sunset policy,” katanya.
Mengenai permintaan tax clearance, menurut Darmin itu bisa saja dilakukan, tapi yang meminta bukan emiten melainkan Bapepam sebagai otoritas bursa. “Kalau memang diminta Bapepam untuk tax clearance, sejauh itu untuk tahun-tahun yang lalu maka akan kita terbitkan,” ujarnya.
(danang j murdono)

Asing kuasai telekomunikasi, ancaman bagi RI?

Singapura dan Malaysia makin memperkuat cengkeramannya di sektor telekomunikasi Indonesia. Kondisi itu terjadi setelah tiga perusahaan pelayanan seluler terbesar di negeri ini-yang sebagian besar sahamnya dikuasai perusahaan dari kedua negara tersebut-memenangkan tender frekuensi layanan seluler generasi ketiga (3G).

Dengan memenangkan tender tersebut, Singapura dan Malaysia makin menguasai sistem dan kepemilikan telekomunikasi paling mutakhir di Indonesia. "Akibatnya, kedua negara itu bisa menguasai politik, ekonomi, bahkan keamanan dan militer di Indonesia. Ini merupakan ancaman bagi bangsa Indonesia," tutur seorang pengamat ekonomi-politik, yang enggan disebut namanya, kepada Bisnis belum lama ini.

Bahkan, menurut dia, dengan menguasai sektor telekomunikasi, kedaulatan suatu negara pun dapat dikuasai. "Akibatnya, bangsa tersebut dapat kehilangan harkat, martabat, dan kemandiriannya. Dan ini yang terjadi di Indonesia, sehingga kita tidak dapat menjadi tuan di negeri sendiri."

Tiga perusahaan yang memenangkan tender itu adalah PT Indosat Tbk dengan harga Rp160 miliar, PT Telkomsel Rp218 miliar, dan PT Excelcomindo Pratama Tbk seharga Rp188 miliar. Meski merupakan perusahaan seluler terbesar di negeri ini, sebagian besar saham di tiga perusahaan itu milik perusahaan Singapura dan Malaysia.

Di Indosat, misalnya, Singapura menguasai 41,94% saham lewat Singapore Technologies and Telemedia (STT). Anak perusahaan Temasek Holding (Pte) Ltd. (BUMN Singapura) ini membeli saham Indosat pada Januari 2002 ketika pemerintah melaksanakan program privatisasi BUMN guna menutup defisit APBN.

Dikuasai negara

Singapura juga memiliki 35% saham di Telkomsel melalui Singapore Telecommunications Ltd (SingTel). Padahal, bukankah Indosat dan Telkomsel merupakan BUMN, yang menangani sektor strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak? Karena itu, berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 Indosat dan Telkom seharusnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sedangkan Excelcomindo Pratama adalah perusahaan swasta yang sebagian terbesar sahamnya dikuasai oleh Malaysia melalui Indocel Holding Sdn Bhd 56,92% dan Khazanah Nasional Berhad (16,81%). Selain itu, sebesar 15,97% saham Excelcomindo dimiliki oleh PT Telekomindo Primabhakti, 10,14% oleh AIF Indonesia Limited, dan selebihnya dimiliki oleh karyawan dan publik.

Telekomindo Primabhakti, yang didirikan di Indonesia pada 1990, merupakan anak perusahaan Grup Rajawali Corporation. Kelompok usaha ini dimiliki oleh pengusaha Peter Sondakh.

Sedangkan AIF Indonesia Limited didirikan di British Virgin Island pada 1995. Perusahaan ini berada di bawah manajemen AIF Capital Limited, salah satu perusahaan pendanaan swasta di Asia yang bermarkas di Hong Kong,

Kecuali di dua perusahaan itu, Singapura juga memiliki 40% saham di PT Bukaka SingTel Indonesia melalui SingTel. Bukaka SingTel Indonesia adalah anak perusahaan Bukaka Group, milik keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang membangun dan memperbaiki jaringan infrastruktur telekomunikasi di Divisi Regional VII, kawasan timur Indonesia.

Penguasaan sistem dan perusahaan telekomunikasi Indonesia oleh Singapura semakin menyedihkan. Hal ini ditunjukkan oleh sedikitnya tiga keadaan.

Pertama, STT bersama SingTel adalah anak perusahaan BUMN Singapura, yakni Temasek Holding (Pte) Ltd. Kedua, dengan ditetapkannya STT/Indonesian Communication Limited (ICL) sebagai pemenang tender divestasi Indosat, perusahaan tersebut menguasai dan mengontrol bisnis seluler Satelindo dan IM3.

Ketiga, SingTel menguasai 35% saham penyelenggara seluler, yaitu Telkomsel. Dengan demikian, mayoritas industri seluler Indonesia telah dikua-sai oleh Temasek Holding (Pte) Ltd. Artinya, Temasek Holding (Pte) Ltd telah memonopoli bisnis seluler di Indonesia.

Harus dibatalkan

Penjualan saham Indosat itu, menurut mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, harus dibatalkan. "Karena divestasi ini [Indosat] masuk kategori high treason (pengkhianatan tingkat tinggi), maka harus dibatalkan dan siapa yang bertanggung jawab dituntut secara hukum."

Bukan itu saja. Divestasi Indosat mengalihkan monopoli negara Indonesia ke monopoli Singapura. Karena yang terlibat dalam divestasi itu adalah perusahaan negara Singapura, maka divestasi Indosat juga telah memindahkan monopoli dari BUMN Indonesia ke perusahaan negara Singapura.

Pertanyaannya, apakah divestasi BUMN Indonesia menjadi BUMN asing itu bukan merupakan pelanggaran serius terhadap UUD 1945 sekaligus pengkhianatan terhadap bangsa dan negara ini? Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah pelaku pelanggaran konstitusi itu justru lembaga pemerintah sendiri, yaitu Kantor Kementerian Negara BUMN.

Karena itu, wajar bila mantan Kepala Bakin Letjen TNI (Purn) Soedibyo mengatakan penjualan 41,94% saham Indosat kepada Singapura merupakan sebuah bentuk ketidakpedulian terhadap konsep nasional yang bertujuan mewujudkan Indonesia sebagai satu kesatuan politik, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan budaya, dan satu kesatuan keamanan nasional yang kokoh dan mantap.

"Penjualan ini [41,94% saham Indosat] juga berarti tidak menghargai perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam mewujudkan Indosat sebagai aset negara yang begitu tinggi harganya," ujarnya saat divestasi Indosat.

Penjualan aset negara tidak hanya terjadi di sektor telekomunikasi. Di sektor pertambangan, termasuk minyak dan gas bumi (migas), juga terjadi dengan masuknya Freeport-McMoRan Copper & Gold di Papua dan ExxonMobil Oil di Blok Cepu.

Kalau demikian kondisinya, bukankah sama artinya dengan kita menjadi budak bangsa asing di negeri sendiri? Hal ini sungguh sangat ironis, bukan!

Rabu, 04 Juni 2008

Inflasi Juni Harus Diwaspadai

Jakarta - Bulan Juni mendatang bisa jadi merupakan puncak inflasi. Ada momen liburan sekolah, pendaftaran sekolah dan kemungkinan kenaikan harga beras.

Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia siap meredam tekanan laju inflasi pada bulan-bulan ke depan, ditengah tekanan karena kenaikan harga BBM dan faktor-faktor musiman lainnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dari siklus perkembangan harga, pemerintah menyadari pertengahan tahun ini faktor musiman akan menjadi tantangan pemerintah dalam meredam inflasi.

"Menjelang anak masuk sekolah inflasi akan muncul dari biaya pendidikan, kemudian liburan, kemudian harga beras karena kita sudah selesai panennya dan sampai pada panen selanjutnya kita harus antisipasi, lebaran dan puasa. Kita memang sepakat itu momen-momen yang memang tekanan harga muncul," tuturnya ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa malam (3/6/2008).

Menkeu mengatakan kalau yang berhubungan dengan stok beras dalam rangka menghadapi bulan puasa dan lebaran beberapa Kementerian telah melakukan periapan antisipasi. "Kalau berhubungan dengan beras, kita punya stok dari Bulog," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Boediono mengatakan BI akan berkomitmen menjaga efek ronde kedua dari kenaikkan harga BBM yang dilakukan pemerintah dengan menggunakan semua instrumen moneter yang ada dengan proporsional.

"Kita akan menggunakan semua instrumen yang ada agar second round effect dari kebijakan BBM tidak menekan inflasi lebih tinggi," ujarnya.

Memang berdasarkan perkiraan pemerintah dan BI, inflasi sampai akhir tahun 2008 bisa mencapai double digit akibat kenaikkan harga pangan dan BBM. Bahkan Menkeu mengatakan skenario paling buruk, sampai akhir tahun 2008 inflasi bisa berada di level 12 persen.

Sementara itu mengenai pengaruh kondisi ini terhadap SUN (Surat Utang Negara), Menkeu mengatakan pemerintah dan BI berkomitmen untuk menjaga suasana dan ekspektasi perekonomian stabil sehingga masyarakat dan investor bisa percaya akan suasana ekonomi Indonesia yang kondusif.

"Itu akan membuat orang percaya terhadap instrumen pemerintah, kalau future inflation itu tinggi dan direspons oleh SBI, pasar merefleksikan berapa harga yang optimal untuk SUN," ujar Menkeu.

IHSG Bersiap Rebound

Jakarta - Bursa-bursa regional mulai mengacuhkan pelemahan Wall Street. Meski berpotensi untuk rebound, namun investor masih akan terus bersiaga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 5 Juni mendatang.

Investor memperkirakan akan ada kenaikan BI Rate antara 25 hingga 50 basis poin, setelah melihat tingginya inflasi yang secara year on year sudah menembus dua digit.

IHSG pada perdagangan Rabu (4/6/2008) berpotensi untuk rebound terbatas. Investor terdorong oleh penguatan bursa-bursa regional.

Indeks Nikkei-225 di Bursa Saham Tokyo pada pagi ini menguat tipis 62,59 poin (0,44%) ke level 14.271,76. Bursa regional tampaknya mulai mengacuhkan pelemahan yang kembali terjadi di bursa Wall Street.

Indeks Dow Jones kemarin ditutup kembali melemah setelah adanya laporan bahwa Lehman Brothers sedang mencari suntikan dana untuk menaikkan modalnya. Indeks Dow Jones melemah 100,97 poin (0,81%) ke level 12.402,85. Nasdaq juga melemah 11,05 poin (0,44%) ke level 2.480,48.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:


Indeks melemah 23 poin ke 2.403 dipicu sentimen negatif tingginya inflasi disamping bursa regional yang tertekan. Belum adanya sentimen positif dari domestik bakal menyebabkan indeks kembali melemah dikisaran 2.380-2.430 dengan saham pilihan: PGAS, TINS, UNVR, INDF, dan AALI.


Bursa Indonesia pada perdagangan kemarin kembali berada dalam teritori negatif, in line dengan bursa regional yang kemarin mengalami tekanan jual. Indeks ditutup melemah 23,95 poin di level 2403,8. Pelemahan indeks kemarin juga didorong oleh melemahnya saham BUMI (-2,5%) sebagai index mover.

Sementara bursa US semalam kembali terkoreksi terkait buruknya data perekonomian US dan tingginya inflasi akibat tingginya harga minyak. Rumor mengenai Lehman Brothers yang membutuhkan peningkatan modal mencapai US$4 miliar, membawa indeks Dow kembali terkoreksi 0,8%. Sementara beberapa bursa Asia mengalami teknikal rebound setelah koreksi yang cukup dalam kemarin.

Bursa Indonesia diperkirakan masih akan bergerak melemah dengan volume terbatas, seiring investor masih menunggu keputusan BI mengenai BI Rate pada tanggal 5 Juni. Beberapa saham yang kemarin sempat terkoreksi cukup dalam, diperkirakan akan mengalami teknikal rebound, seperti BUMI, ITMG, BBRI dan BMRI.

Senin, 02 Juni 2008

IHSG Bergerak Variatif

JAKARTA - Indeks harga saham gabuangan (IHSG) selama sepekan masih akan bergerak variatif. Investor akan mencermati data iniflasi Mei 2008 yang akan dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini.

Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan membawa dampak tingginya inflasi. Akibatnya daya beli masyarakat menurun.

Kekhawatiran ini beralasan, jika keadaan seperti itu saham-saham sektor manufaktur akan tertekan, terutama emiten yang bergerak di bidang otomotif.

"Jika inflasi tinggi, daya beli menurun, kinerja industri sektor manufaktur akan menurun," ujar analis dari Optime Securities Ikhsan Binarto kepada okezone, di Jakarta, Senin (2/6/2008).

Tidak hanya itu, kinerja perbankan juga akan terkoreksi. Menyusul, kemungkinan Bank Indonesia menaikkan suku bunganya. Hal ini memicu kenaikan suku bunga pada kredit perbankan.

Meski beberapa bank telah menyatakan tidak akan ada koreksi atas pertumbuhan kredit, namun tingginya suku bunga menjadi kekhawatiran adanya penurunan daya serap kredit tersebut.

Di sisi lain, tingginya harga minyak dunia akan mengangkat saham-saham pertambangan dan perkebunan. Mengingat, kedua sektor tersebut berkaitan langsung terhadap kecukupan energi. IHSG pada pekan ini diperkirakan bergerak pada level 2.380-2.510. (hsp)

Sesi Siang, IHSG Terkoreksi 1,52 Poin

JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya ditutup melemah 1,52 poin atau 0,06 persen ke level 2.442,83.
Indeks LQ45 turun 0,59 poin ke 517,77, dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 3,08 ke 438.58.

Sejumlah saham mengalami koreksi, kecuali saham perbankan dan saham pertambangan.

Volume perdagangan terpantau sebesar 954 juta saham dengan nilai transaksi Rp1,441 triliun. Saham yang menguat sebanyak 71 jenis, melemah 81 jenis, dan stagnan 70 jenis saham.

Saham-saham yang melemah atau top loser antara lain, PT Timah Tbk (TINS) turun Rp500 ke Rp33.450, PT United Tractors Tbk (UNTR) turun Rp450 ke Rp4.000, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun Rp350 ke Rp26.100, PT SMART Tbk (SMAR) turun Rp300 ke Rp6.500, dan PT Indosat Tbk (ISAT) turun Rp200 ke Rp5.550.

Sementara, saham-saham yang menguat atau top gainer antara lain, Astra International Tbk (ASII) naik Rp650 ke Rp21.650, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp600 ke Rp35.600, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik Rp300 ke , PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik Rp100 ke Rp5,900. (hsp)

Wait and See, Transaksi Sepi

JAKARTA - Menjelang pungumuman data inflasi Mei 2008, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia akan bergerak variatif dengan kecenderungan transaksi sepi. Menyusul, investor akan melakukan wait and see terhadap data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) itu.

Demikian juga dengan perdagangan saham bursa global. Pada akhir pekan lalu, misalnya indeks Dow Jones turun 0,06 persen, Nasdaq naik 0,57 persen. Sementara awal perdagangan saham pekan ini, indeks Nikkei terkoreksi 0,39 persen.

Berikut prediksi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) perdagangan Senin :


Para pelaku pasar mulai mencermati serta mengantisipasi arah pertumbuhan ekonomi domestik pascakenaikan BBM, menanti diumumkannya inflasi Mei pada pekan ini. Penguatan IHSG tertahan pada resistensi 2.450, dan ditutup melemah sedikit di bawah resisten. Pada perdagangan hari ini IHSG diperkirakan akan bergerak variatif dalam rentang 2.420-2.500.


IHSG pada akhir pekan ditutup melemah 2 poin, investor menunggu data inflasi yang akan diumumkan pada awal pekan. IHSG pada hari ini akan bergerak mendatar dengan kecenderungan menguat rentang harga 2.400-2.480.


IHSG melemah tipis 2 poin ke posisi 2.444. Kondisi ini memperlihatkan investor hati-hati mengakumulasi saham sebagai antisipasi data inflasi yang bakal keluar siang ini.

Kenaikan BBM non subsidi 5-8 persen per Juni lalu bisa menjadi sentimen negatif saham otomotif dan transportasi. IHSG diperkirakan mixed pada kisaran 2.430-2.460 dengan saham pilihan, PT PP London Sumatera Tbk (LSIP), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Pada perdagangan Jumat 30 Mei, IHSG ditutup pada posisi 2.444,35 atau menurun 2,6 poin atau 0,11 persen. Indeks LQ45 naik 0,75 poin ke posisi 518,36 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,79 poin ke posisi 441,66. (hsp)

world market