JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (7/8/2008) diprediksi akan menguat, walaupun tipis. Sektor-sektor di bidang infrastruktur akan membantu menguatnya pergerakan indeks.
Penurunan harga minyak mentah dan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional diperkirakan menjadi arah pergerakan indeks. "Saham-saham perkebunan masih melakukan konsolidasi,"
Gifar memprediksi gerak indeks hari ini akan berada pada level support 2.160 dan resistance 2.196. Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas juga berpendapat sama, pasar kemungkinan akan bergerak mixed dengan kecenderungan negatif, akibat sentimen negatif dari perkembangan harga komoditas.
Setelah menguat pada sesi pertama akhirnya indeks hanya menguat tipis 1,5 poin ke level 2.187. Walaupun bursa regional menguat karena harga komoditas seperti CPO dan minyak masih tertekan, membuat saham berbasis komoditas pun masih dalam tekanan hebat.
Sektor-sektor yang diprediksi menguat yakni sektor infrastruktur dipimpin PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) terkait harga jual gas yang kini bersifat business to business (B2B). Indeks selanjutnya mengikuti arah harga komoditas dengan kisaran 2.170-2.220 dengan pilihan saham: PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Medco Energy Internasional Tbk (MEDC), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Astra Internasional Tbk (ASII).
Sentimen positif dari bursa regional mampu untuk mendorong IHSG pada area positif. Namun, masih minimnya sentimen dalam negeri serta bearish trend masih tetap membayangi pergerakan indeks.
Dengan indeks yang masih rawan terhadap aksi profit taking, maka potensi untuk kembali pada area negatif pada perdagangan hari ini cukup besar. Apalagi jika bursa regional berbalik arah. Support kuat terlihat di kisaran 2.150 dengan batas atas pada level 2.210.
Kamis, 07 Agustus 2008
BI Tetap Optimistis Kredit Tumbuh Subur
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) tetap optimistis target pertumbuhan kredit perbankan 2008 sebesar 24 persen akan tercapai meski kondisi ekonomi masih bergejolak.
Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah mengatakan, hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya bank yang menurunkan target kreditnya. Padahal, BI sudah mengingatkan tentang kemungkinan semakin naiknya tingkat suku bunga, kemudian melemahnya harga komoditas, serta pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) yang masih rendah. "Pada semester II, beberapa bank justru menaikkan target kreditnya," katanya di Jakarta.
Halim menambahkan, selama ini perbankan memanfaatkan simpanan dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai sumber pembiayaan kreditnya. Pada akhir Juni 2008, posisi SBI trus menunjukkan pengurangan, yakni dari Rp280 triliun menjadi Rp183,5 triliun. Untuk itu, BI mengingatkan agar perbankan nasional mengukur kemampuannya.
"Meski permintaan kredit tetap tinggi, tapi bank harus bisa menahan diri. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang," tandasnya. Halim menambahkan, BI sudah menerima laporan rencana bisnis bank (RBB) semester II milik 15 bank besar dan 21 bank menengah kecil. Dari ke-15 bank besar tersebut, 10 di antaranya tidak melakukan revisi.
Sementara tiga bank menaikkan target dan sisanya menurunkan target pertumbuhan kreditnya. "Koreksi ini dipicu oleh ekspektasi inflasi yang tinggi dan dikhawatirkan akan memengaruhi pertumbuhan perekonomian nasional," paparnya.
Direktur Perencanaan Strategis dan Humas BI Dyah Nastiti K Mukhijani dalam keterangan tertulisnya mengatakan, kredit perbankan per Juni masih tumbuh sebessar 31,6 persen dengan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) turun menjadi 4,08 persen.
Penjualan kendaraan bermotor dan semen meningkat pesat. Dengan kondisi tersebut,pertumbuhan kredit akan mendorong perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2008, lanjut Dyah,akan tetap tumbuh jika ditopang pertumbuhan ekspor, pengeluaran konsumsi masyarakat, dan pengeluaran pemerintah yang cukup tinggi.
Permintaan dalam negeri juga ditopang oleh peningkatan belanja daerah dan telah dimulainya tahapan pemilihan umum (Pemilu) 2009. Terhadap kondisi tersebut, praktisi perbankan Paul Sutaryono menyatakan pertumbuhan kredit memang menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan berjalan. Hal tersebut ditunjukkan oleh rasio simpanan dibandingkan kredit (loan to deposit ratio/LDR) yang melejit sekitar 74 persen dan dirong oleh kredit modal kerja.
"Artinya, banyak perusahaan memerlukan tambahan modal kerja karena biaya produksi semakin tinggi. Selain itu,laju inflasi dipicu kenaikan harga BBM.Hal ini berarti biaya modal atau cost of capital semakin tinggi," tukasnya kepada SINDO kemarin. Untuk itu, lanjut Paul, bank tetap wajib meningkatkan kualitas kredit melalui penerapan manajemen risiko kredit dengan baik dan benar sehingga tidak asal kucurkan kredit.
Pengamat perbankan Paul Sutaryono mengatakan, masih tingginya penyaluran kredit menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan sudah berjalan. Hal tersebut ditunjukkan oleh rasio simpanan dibandingkan kredit (loan to deposit ratio/LDR) yang melejit sekitar 74 persen dan didorong kredit modal kerja.
Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah mengatakan, hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya bank yang menurunkan target kreditnya. Padahal, BI sudah mengingatkan tentang kemungkinan semakin naiknya tingkat suku bunga, kemudian melemahnya harga komoditas, serta pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) yang masih rendah. "Pada semester II, beberapa bank justru menaikkan target kreditnya," katanya di Jakarta.
Halim menambahkan, selama ini perbankan memanfaatkan simpanan dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai sumber pembiayaan kreditnya. Pada akhir Juni 2008, posisi SBI trus menunjukkan pengurangan, yakni dari Rp280 triliun menjadi Rp183,5 triliun. Untuk itu, BI mengingatkan agar perbankan nasional mengukur kemampuannya.
"Meski permintaan kredit tetap tinggi, tapi bank harus bisa menahan diri. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang," tandasnya. Halim menambahkan, BI sudah menerima laporan rencana bisnis bank (RBB) semester II milik 15 bank besar dan 21 bank menengah kecil. Dari ke-15 bank besar tersebut, 10 di antaranya tidak melakukan revisi.
Sementara tiga bank menaikkan target dan sisanya menurunkan target pertumbuhan kreditnya. "Koreksi ini dipicu oleh ekspektasi inflasi yang tinggi dan dikhawatirkan akan memengaruhi pertumbuhan perekonomian nasional," paparnya.
Direktur Perencanaan Strategis dan Humas BI Dyah Nastiti K Mukhijani dalam keterangan tertulisnya mengatakan, kredit perbankan per Juni masih tumbuh sebessar 31,6 persen dengan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) turun menjadi 4,08 persen.
Penjualan kendaraan bermotor dan semen meningkat pesat. Dengan kondisi tersebut,pertumbuhan kredit akan mendorong perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2008, lanjut Dyah,akan tetap tumbuh jika ditopang pertumbuhan ekspor, pengeluaran konsumsi masyarakat, dan pengeluaran pemerintah yang cukup tinggi.
Permintaan dalam negeri juga ditopang oleh peningkatan belanja daerah dan telah dimulainya tahapan pemilihan umum (Pemilu) 2009. Terhadap kondisi tersebut, praktisi perbankan Paul Sutaryono menyatakan pertumbuhan kredit memang menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan berjalan. Hal tersebut ditunjukkan oleh rasio simpanan dibandingkan kredit (loan to deposit ratio/LDR) yang melejit sekitar 74 persen dan dirong oleh kredit modal kerja.
"Artinya, banyak perusahaan memerlukan tambahan modal kerja karena biaya produksi semakin tinggi. Selain itu,laju inflasi dipicu kenaikan harga BBM.Hal ini berarti biaya modal atau cost of capital semakin tinggi," tukasnya kepada SINDO kemarin. Untuk itu, lanjut Paul, bank tetap wajib meningkatkan kualitas kredit melalui penerapan manajemen risiko kredit dengan baik dan benar sehingga tidak asal kucurkan kredit.
Pengamat perbankan Paul Sutaryono mengatakan, masih tingginya penyaluran kredit menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan sudah berjalan. Hal tersebut ditunjukkan oleh rasio simpanan dibandingkan kredit (loan to deposit ratio/LDR) yang melejit sekitar 74 persen dan didorong kredit modal kerja.
Investor Asing Buru Saham Trias
JAKARTA - Sejumlah konsorsium broker asing siap memborong saham perusahaan manufaktur biaxially oriented polypropylene (BOPP), PT Trias Sentosa Tbk.
Perburuan ini seiring dengan keberhasilan perseroan membukukan pertumbuhan penjualan semester I-2008 sekitar 50,6 persen menjadi Rp952 miliar dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp632 miliar.
Sumber okezone di Jakarta Kamis (7/8/2008) mengatakan, kinerja keuangan yang menguat menaikkan kepercayaan broker asing mengoleksi saham berkode emiten TRST ini.
Selain itu, rencana perseroan membeli pabrik produk kemasan di Tianjin, Tiongkok, dan keberhasilan Trias mendapatkan dana segar untuk mendukung ekspansi usaha di mancanegara mendorong saham TRST siap di buru dalam waktu dekat.
Sekadar diketahui, pada perdagangan Rabu 6 Agustus kemarin, TRST melemah Rp5 menjadi Rp215 per lembar saham.
Perburuan ini seiring dengan keberhasilan perseroan membukukan pertumbuhan penjualan semester I-2008 sekitar 50,6 persen menjadi Rp952 miliar dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp632 miliar.
Sumber okezone di Jakarta Kamis (7/8/2008) mengatakan, kinerja keuangan yang menguat menaikkan kepercayaan broker asing mengoleksi saham berkode emiten TRST ini.
Selain itu, rencana perseroan membeli pabrik produk kemasan di Tianjin, Tiongkok, dan keberhasilan Trias mendapatkan dana segar untuk mendukung ekspansi usaha di mancanegara mendorong saham TRST siap di buru dalam waktu dekat.
Sekadar diketahui, pada perdagangan Rabu 6 Agustus kemarin, TRST melemah Rp5 menjadi Rp215 per lembar saham.
Selasa, 05 Agustus 2008
Analisa Saham Hari ini
JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (5/8/2008) diperkirakan kembali terkoreksi, melanjutkan pelemahan kemarin.
Sebab, selain belum ada sentimen positif, pelaku pasar pun masih menahan diri menunggu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.
"Yang akan menopang indeks hari ini adalah kemungkinan berlanjutnya penguatan saham PT telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan saham sektor perbankan. Namun, secara teknikal IHSG akan melemah," Dia memperkirakan indeks hari ini akan bergerak pada level support 2.200-2.275 dan level resistance 2.270-2.315.
setelah melemah awal pekan, IHSG pada perdagangan hari ini berpeluang mengalami rebound. "Sentimen positif IHSG datang dari indeks regional dan tingkat inflasi yang sesuai prediksi market," jelasnya. Angka inflasi Juli pada level 1,37 persen, kata dia, sudah sesuai antisipasi sehingga pasar cenderung terkendali.
Penyebab inflasi yang selama ini berasal dari lonjakan harga minyak mentah juga tidak terlalu mengkhawatirkan lagi. Sebab, level harga minyak yang kini berada di kisaran USD126 per barel diperkirakan masih berpotensi turun, bahkan mengarah ke level USD100 per barel. Willy memprediksi indeks hari ini akan bergerak antara level support bawah 2.210 dan 2.227, serta level resistance 2.290 dan strong resistance2.320.
"Harga minyak mentah tidak lagi mengkhawatirkan dan inflasi terkendali. Jadi, indeks hari ini terbuka peluang untuk rebound," ungkapnya. Dia menyebut, saham sektor telekomunikasi hari ini kembali akan menopang indeks setelah rebound-nya (TLKM)ke level Rp7.950 atau naik 3,92 persen. Selain itu, saham sektor komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan berada di level Rp3.800, setelah jatuh terlampau jauh.
"TLKM akan tetap kuat, sedangkan Antam setelah melepas Herald, memiliki modal besar sehingga terbuka peluang melakukan ekspansi," paparnya.
euforia melemahnya pergerakan bursa regional, serta aksi profit taking beberapa saham unggulan menekan laju pergerakan IHSG hingga 0,9 persen atau ditutup pada kisaran level support harga 2.230.
Apabila euforia tersebut berlanjut pada perdagangan hari ini, maka terbuka potensi terciptanya dead cross serta penembusan support harga 2.200. Tekanan jual jangka pendek tersebut diperkirakan akan membawa IHSG pada interval 2.195 - 2.230.
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 21,070 poin atau 0,94 persen ke posisi 2.227,68. Indeks LQ45 turun 5,06 poin ke posisi 462,76 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 3,30 poin ke posisi 372,57. Volume perdagangan tercatat sebanyak 1,280 miliar saham atau senilai Rp2,808 triliun.
Sebab, selain belum ada sentimen positif, pelaku pasar pun masih menahan diri menunggu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.
"Yang akan menopang indeks hari ini adalah kemungkinan berlanjutnya penguatan saham PT telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan saham sektor perbankan. Namun, secara teknikal IHSG akan melemah," Dia memperkirakan indeks hari ini akan bergerak pada level support 2.200-2.275 dan level resistance 2.270-2.315.
setelah melemah awal pekan, IHSG pada perdagangan hari ini berpeluang mengalami rebound. "Sentimen positif IHSG datang dari indeks regional dan tingkat inflasi yang sesuai prediksi market," jelasnya. Angka inflasi Juli pada level 1,37 persen, kata dia, sudah sesuai antisipasi sehingga pasar cenderung terkendali.
Penyebab inflasi yang selama ini berasal dari lonjakan harga minyak mentah juga tidak terlalu mengkhawatirkan lagi. Sebab, level harga minyak yang kini berada di kisaran USD126 per barel diperkirakan masih berpotensi turun, bahkan mengarah ke level USD100 per barel. Willy memprediksi indeks hari ini akan bergerak antara level support bawah 2.210 dan 2.227, serta level resistance 2.290 dan strong resistance2.320.
"Harga minyak mentah tidak lagi mengkhawatirkan dan inflasi terkendali. Jadi, indeks hari ini terbuka peluang untuk rebound," ungkapnya. Dia menyebut, saham sektor telekomunikasi hari ini kembali akan menopang indeks setelah rebound-nya (TLKM)ke level Rp7.950 atau naik 3,92 persen. Selain itu, saham sektor komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan berada di level Rp3.800, setelah jatuh terlampau jauh.
"TLKM akan tetap kuat, sedangkan Antam setelah melepas Herald, memiliki modal besar sehingga terbuka peluang melakukan ekspansi," paparnya.
euforia melemahnya pergerakan bursa regional, serta aksi profit taking beberapa saham unggulan menekan laju pergerakan IHSG hingga 0,9 persen atau ditutup pada kisaran level support harga 2.230.
Apabila euforia tersebut berlanjut pada perdagangan hari ini, maka terbuka potensi terciptanya dead cross serta penembusan support harga 2.200. Tekanan jual jangka pendek tersebut diperkirakan akan membawa IHSG pada interval 2.195 - 2.230.
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 21,070 poin atau 0,94 persen ke posisi 2.227,68. Indeks LQ45 turun 5,06 poin ke posisi 462,76 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 3,30 poin ke posisi 372,57. Volume perdagangan tercatat sebanyak 1,280 miliar saham atau senilai Rp2,808 triliun.
Rupiah Menantikan Kebijakan BI Rate
JAKARTA - Pelaku pasar valuta asing pada perdagangan ini akan menahan aksi jual-belinya, sampai ada kepastian soal kebijakan BI rate.
Begitu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) mengumumkan mempertahankan BI rate di posisi 8,75 persen atau menaikkan 25 basis poin menjadi sembilan persen. Jika BI rate dinaikan menjadi sembilan persen, maka rupiah diprediksikan akan semakin bergelora.
Namun, saat ini pasar masih belum bisa membaca gelagat kebijakan moneter tersebut. Karena, tekanan inflasi yang tinggi masih menjadi pertimbangan. Kenaikan inflasi Juli dipicu akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok barang dan jasa, terutama pada kelompok pendidikan,rekreasi, dan olahraga serta kelompok bahan makanan.
Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta berharap, BI tidak terus menaikkan BI Rate dalam mengendalikan laju inflasi. Kenaikan suku bunga acuan dikhawatirkan malah membebani ekonomi sektor riil.
"Saya melihat BI dalam mengendalikannya (laju inflasi) masih klasik, yaitu dengan melakukan kebijakan tight money policy. Saya juga dengar giro wajib minimum mau dinaikkan. Ini akan membuat sektor riil macet karena bunga kredit naik," ujarnya di Jakarta, Senin 5 Agustus kemarin. Paskah mengakui, untuk menahan laju inflasi tersebut, BI memang bisa menggunakan instrumen suku bunga.
Pada perdagangan Senin 4 Agustus kemarin, nilai tukar rupiah pada perdagangan ditutup menguat lima poin ke posisi Rp9.082 per USD, di banding perdagangan Jumat akhir pekan lalu.
Begitu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) mengumumkan mempertahankan BI rate di posisi 8,75 persen atau menaikkan 25 basis poin menjadi sembilan persen. Jika BI rate dinaikan menjadi sembilan persen, maka rupiah diprediksikan akan semakin bergelora.
Namun, saat ini pasar masih belum bisa membaca gelagat kebijakan moneter tersebut. Karena, tekanan inflasi yang tinggi masih menjadi pertimbangan. Kenaikan inflasi Juli dipicu akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok barang dan jasa, terutama pada kelompok pendidikan,rekreasi, dan olahraga serta kelompok bahan makanan.
Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta berharap, BI tidak terus menaikkan BI Rate dalam mengendalikan laju inflasi. Kenaikan suku bunga acuan dikhawatirkan malah membebani ekonomi sektor riil.
"Saya melihat BI dalam mengendalikannya (laju inflasi) masih klasik, yaitu dengan melakukan kebijakan tight money policy. Saya juga dengar giro wajib minimum mau dinaikkan. Ini akan membuat sektor riil macet karena bunga kredit naik," ujarnya di Jakarta, Senin 5 Agustus kemarin. Paskah mengakui, untuk menahan laju inflasi tersebut, BI memang bisa menggunakan instrumen suku bunga.
Pada perdagangan Senin 4 Agustus kemarin, nilai tukar rupiah pada perdagangan ditutup menguat lima poin ke posisi Rp9.082 per USD, di banding perdagangan Jumat akhir pekan lalu.
CPRO Tingkatkan Produksi 85,88%
JAKARTA - PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) sebagai produsen terintegrasi secara vertikal terbesar di dunia, hingga akhir Juni 2008 mencatat peningkatan produksi menjadi 48.952 metrik ton.
Angka tersebut mendekati total produksi udang sepanjang tahun 2007 yang mencapai 57 ribu ton. Adapun untuk jumlah produksi sampai dengan periode Juni 2008 tersebut mencapai 85,88 persen dari total produksi tahun 2007.
"Berkat dukungan petambak, karyawan serta pemangku kepentingan lainnya, kami berhasil meningkatkan secara signifikan produksi budidaya udang pada lahan tambak yang dioperasikan oleh perseroan, " kata Wakil Direktur Utama CPRO, Mahar A Sembiring dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (4/8/2008).
Mahar menuturkan peningkatan produksi tersebut ditunjang oleh program revitalisasi tambak yang tengah dilakukan oleh perseroan sepanjang periode 2007-2009.
Program revitalisasi tersebut meliputi kegiatan peremajaan fasilitas tambak serta pendayagunaan teknologi budidaya udang. Selain itu, rampungnya program revitalisasi pada unit usaha Wachyuni Mandira di penghujung 2007 memberikan kontribusi yang besar bagi peningkatan produksi di akhir Juni 2008.
Seiring dengan semakin banyaknya jumlah tambak yang selesai direvitalisasi, lanjut Mahar, peningkatan produksi panen udang akan terus berlanjut dengan pesat.
"Dalam hal ini perseroan jelas memiliki potensi yang besar di tahun 2008 untuk dapat mencapai jumlah produksi dua kali lipat dari tahun sebelumnya," tegas Mahar.
Sementara itu, CPRO melalui laporan pertengahan tahunnya juga menunjukkan kinerja keuangan yang meningkat tajam. Perseroan mencatat angka penjualan bersih sebesar Rp3,683 triliun sampai dengan periode 30 Juni 2008, meningkat 42,18 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba kotor melonjak sebesar 50,37 persen menjadi Rp749,17 miliar dari Rp498,21 miliar di periode yang sama tahun 2007.
Sementara analis Panca Global Securities Bertrand Reynaldi mengatakan bahwa potensi CPRO dalam aspek produksi terefleksikan dari kuatnya fundamental perseroan. Dengan terus berjalannya proses revitalisasi yang telah dilakukan sejak tahun 2007, perseroan memiliki potensi besar untuk dapat mengembangkan kapasitas produksi secara terus menerus. "Hal ini dapat pulat dilihat dari kuatnya fundamental perseroan seperti yang telah diumumkan," tandasnya.
Angka tersebut mendekati total produksi udang sepanjang tahun 2007 yang mencapai 57 ribu ton. Adapun untuk jumlah produksi sampai dengan periode Juni 2008 tersebut mencapai 85,88 persen dari total produksi tahun 2007.
"Berkat dukungan petambak, karyawan serta pemangku kepentingan lainnya, kami berhasil meningkatkan secara signifikan produksi budidaya udang pada lahan tambak yang dioperasikan oleh perseroan, " kata Wakil Direktur Utama CPRO, Mahar A Sembiring dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (4/8/2008).
Mahar menuturkan peningkatan produksi tersebut ditunjang oleh program revitalisasi tambak yang tengah dilakukan oleh perseroan sepanjang periode 2007-2009.
Program revitalisasi tersebut meliputi kegiatan peremajaan fasilitas tambak serta pendayagunaan teknologi budidaya udang. Selain itu, rampungnya program revitalisasi pada unit usaha Wachyuni Mandira di penghujung 2007 memberikan kontribusi yang besar bagi peningkatan produksi di akhir Juni 2008.
Seiring dengan semakin banyaknya jumlah tambak yang selesai direvitalisasi, lanjut Mahar, peningkatan produksi panen udang akan terus berlanjut dengan pesat.
"Dalam hal ini perseroan jelas memiliki potensi yang besar di tahun 2008 untuk dapat mencapai jumlah produksi dua kali lipat dari tahun sebelumnya," tegas Mahar.
Sementara itu, CPRO melalui laporan pertengahan tahunnya juga menunjukkan kinerja keuangan yang meningkat tajam. Perseroan mencatat angka penjualan bersih sebesar Rp3,683 triliun sampai dengan periode 30 Juni 2008, meningkat 42,18 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba kotor melonjak sebesar 50,37 persen menjadi Rp749,17 miliar dari Rp498,21 miliar di periode yang sama tahun 2007.
Sementara analis Panca Global Securities Bertrand Reynaldi mengatakan bahwa potensi CPRO dalam aspek produksi terefleksikan dari kuatnya fundamental perseroan. Dengan terus berjalannya proses revitalisasi yang telah dilakukan sejak tahun 2007, perseroan memiliki potensi besar untuk dapat mengembangkan kapasitas produksi secara terus menerus. "Hal ini dapat pulat dilihat dari kuatnya fundamental perseroan seperti yang telah diumumkan," tandasnya.
Harga Minyak Meluncur ke USD120
NEW YORK - Harga minyak kembali turun tajam ke level terendah selama tiga bulan terakhir, yakni di bawah USD120 per barel.
Anjloknya harga minyak itu akibat aksi jual besar-besaran setelah badai tropis Edouard, yang dikhawatirkan merusak fasilitas minyak AS di Teluk Meksiko. Namun kekhawatiran ini tidak terbukti. Sehingga produksi minyak dan gas menjadi tidak terganggu.
Bahkan, selama perdagangan hari itu harga minyak mentah sempat merosot lebih dari USD5 per barel, yang diiringi oleh anjloknya harga sejumlah komoditas mulai dari jagung hingga batu bara.
Departemen Perdagangan AS menyebutkan, penyebab penurunan harga minyak akibat belanja konsumen menurun setelah menyesuaikan dengan laju inflasi dan menyusul tingginya harga bahan bakar, makanan dan sejumlah barang lainnya. Kondisi ini memproyeksikan bahwa ekonomi AS melamban. Akibatknya, permintaan terhadap minyak menjadi menurun.
Pada perdagangan Senin 4 Agustus waktu setempat, di Pasar Perdagangan New York, harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman September anjlok USD3,69 atau 2,9 persen, menjadi USD121,41 per barel.
Seperti dikutip dari Associated Press (AP), Selasa (5/8/2008), harga tersebut merupakan harga terendah sejak 5 Mei lalu. Sebelumnya harga minyak itu sempat melorot menjadi USD119,50, level terendah sejak 6 Mei.
Harga gas alam juga turun tajam sebesar 66,3 sen, atau 7,1 persen, menjadi USD8,726 per 1.000 kaki kubik. Dan harga bensin di AS turun 8,41 sen menjadi USD3,0002 per galon. Harga sejumlah komoditas seperti emas, jagung, tembaga dan kedelai juga melorot.
Anjloknya harga minyak itu akibat aksi jual besar-besaran setelah badai tropis Edouard, yang dikhawatirkan merusak fasilitas minyak AS di Teluk Meksiko. Namun kekhawatiran ini tidak terbukti. Sehingga produksi minyak dan gas menjadi tidak terganggu.
Bahkan, selama perdagangan hari itu harga minyak mentah sempat merosot lebih dari USD5 per barel, yang diiringi oleh anjloknya harga sejumlah komoditas mulai dari jagung hingga batu bara.
Departemen Perdagangan AS menyebutkan, penyebab penurunan harga minyak akibat belanja konsumen menurun setelah menyesuaikan dengan laju inflasi dan menyusul tingginya harga bahan bakar, makanan dan sejumlah barang lainnya. Kondisi ini memproyeksikan bahwa ekonomi AS melamban. Akibatknya, permintaan terhadap minyak menjadi menurun.
Pada perdagangan Senin 4 Agustus waktu setempat, di Pasar Perdagangan New York, harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman September anjlok USD3,69 atau 2,9 persen, menjadi USD121,41 per barel.
Seperti dikutip dari Associated Press (AP), Selasa (5/8/2008), harga tersebut merupakan harga terendah sejak 5 Mei lalu. Sebelumnya harga minyak itu sempat melorot menjadi USD119,50, level terendah sejak 6 Mei.
Harga gas alam juga turun tajam sebesar 66,3 sen, atau 7,1 persen, menjadi USD8,726 per 1.000 kaki kubik. Dan harga bensin di AS turun 8,41 sen menjadi USD3,0002 per galon. Harga sejumlah komoditas seperti emas, jagung, tembaga dan kedelai juga melorot.
Langganan:
Postingan (Atom)
