ALJAZAIR - Presiden OPEC sekaligus Menteri Perminyakan Aljazair Chakib Khelil memerkirakan harga minyak dunia akan melonjak hingga USD170 per barel sebelum akhir tahun. Lonjakan diakibatkan melemahnya mata uang dolar dan konfllik politik.
"Harga minyak akan menyentuh USD170 sebagai akibat dari meningkatnya permintaan minyak di AS selama musim panas dan melemahnya nilai tukar dolar terhadap euro," ucap Khelil, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (29/6/2008).
Selain itu, lanjut Khelil, meningkatnya eskalasi politik di Iran juga menjadi penyebab naiknya harga minyak dunia. Buktinya, di papan perdagangan New York, harga minyak mentah meningkat berkali-kali lipat dalam setahun ini. Tercatat, hingga kemarin harga minyak menyentuh USD142.99 per barel.
Khelil menyatakan, secara keseluruhan produksi minyak saat ini berkecukupan. Bahkan akan berlebih, jika Arab Saudi, notabene produser minyak terbesar, merealisasikan janjinya untuk menambah produksinya sebanyak 200 ribu barel perhari dengan tujuan menenangkan pasar. Atas kondisi suplai berlebih itu, membuat Libia berencana untuk mengurangi produksi minyaknya. Untuk menghindari kondisi pasar yang oversupplied.
"Pasar dalam keadaaan tersuplai dengan baik," ucap Menteri Perminyakan Venezuela, Rafael Ramirez, Sabtu (28/6/2008).
Sehingga, seperti mengulangi pernyataannya belum lama ini, Khelil melihat meningkatnya harga minyak tidak ada hubungannya dengan keterbatasan jumlah suplai sama sekali. "Cukup banyak minyak di pasaran yang sesuai dengan permintaan," imbuh Khelil, yang akan ambil bagian dalam forum energi internasional, 30 Juni mendatang di Madrid.
Senin, 30 Juni 2008
Analisa Saham Hari Ini
JAKARTA - Pergerakan indeks pada hari Senin (30/6/2008), diperkirakan masih akan melemah. Mahalnya harga minyak yang sudah mencapai USD142,99 per barel hingga Jumat kemarin masih mendominasi sentimen pasar.
Selain itu pelaku pasar masih akan bergerak mixed menanti data inflasi Juni dan posisi BI rate. Kedua data moneter itu masing-masing akan diumumkan pada 1 Juli 2008 dan 3 Juni mendatang.
Belum stabilnya pasar saham global, membuat pelaku pasar meminimalisir risiko dengan melakukan transaksi terbatas.
Berikut prediksi pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini:
Naiknya harga minyak dunia hingga menyentuh angka USD140 per barel memberikan sentimen negatif pada indeks sehingga ditutup terkoreksi 18 poin di 2.332.
Sedangkan indeks pada awal pekan ini masih dibayangi berita mengenai inflasi yang diprediksi menembus dua digit sebagai akibat kenaikan harga BBM akhir bulan lalu. Indeks akan bergerak mendatar dengan kecenderungan menurun pada rentang 2,320-2,380.
Tekanan pelemahan terhadap pergerakan IHSG di awal minggu ini masih belum berakhir. Pada akhir pekan lalu IHSG gagal menguji resistensi 2.350 untuk bertahan pada teritori positif. Meskipun demikian tekanan pelemahan akhir pekan lalu mengindikasikan semakin berkurangnya ruang tekanan.
Hal ini diperkirakan akan memberikan peluang untuk melakukan akumulasi pada support 2.290 apabila terjadi penetrasi support 2.320 pada perdagangan hari ini. IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 2.285 - 2.340.
indeks akan terimbas bursa regional. Ini dikarenakan adanya penantian inflasi dan BI rate. Indeks sendiri melemah 18 poin (0,8 persen) ke level 2.332 dipicu sentimen negative tingginya harga minyak dunia sehingga bursa regional ikut tertekan.
Indeks masih dalam tren melemah pada minggu ini dengan fokus pengumuman inflasi dan BI rate. Indeks diperkirakan bergerak dikisaran 2.350-2.380 dengan pilihan saham, antara lain PT Astra International (AALI), PT PP London Sumatera Tbk (LSIP), PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), PT Tambang Batubara (PTBA), dan PT Timas Tbk (TINS).
IHSG pada perdagangan hari Jumat (27/6/2008) ditutup melemah 18,78 poin atau 0,80 persen ke 2.332,11. Sementara, indeks LQ45 turun 5,10 poin ke 492,07 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 3,90 poin ke 427,55.
Selain itu pelaku pasar masih akan bergerak mixed menanti data inflasi Juni dan posisi BI rate. Kedua data moneter itu masing-masing akan diumumkan pada 1 Juli 2008 dan 3 Juni mendatang.
Belum stabilnya pasar saham global, membuat pelaku pasar meminimalisir risiko dengan melakukan transaksi terbatas.
Berikut prediksi pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini:
Naiknya harga minyak dunia hingga menyentuh angka USD140 per barel memberikan sentimen negatif pada indeks sehingga ditutup terkoreksi 18 poin di 2.332.
Sedangkan indeks pada awal pekan ini masih dibayangi berita mengenai inflasi yang diprediksi menembus dua digit sebagai akibat kenaikan harga BBM akhir bulan lalu. Indeks akan bergerak mendatar dengan kecenderungan menurun pada rentang 2,320-2,380.
Tekanan pelemahan terhadap pergerakan IHSG di awal minggu ini masih belum berakhir. Pada akhir pekan lalu IHSG gagal menguji resistensi 2.350 untuk bertahan pada teritori positif. Meskipun demikian tekanan pelemahan akhir pekan lalu mengindikasikan semakin berkurangnya ruang tekanan.
Hal ini diperkirakan akan memberikan peluang untuk melakukan akumulasi pada support 2.290 apabila terjadi penetrasi support 2.320 pada perdagangan hari ini. IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 2.285 - 2.340.
indeks akan terimbas bursa regional. Ini dikarenakan adanya penantian inflasi dan BI rate. Indeks sendiri melemah 18 poin (0,8 persen) ke level 2.332 dipicu sentimen negative tingginya harga minyak dunia sehingga bursa regional ikut tertekan.
Indeks masih dalam tren melemah pada minggu ini dengan fokus pengumuman inflasi dan BI rate. Indeks diperkirakan bergerak dikisaran 2.350-2.380 dengan pilihan saham, antara lain PT Astra International (AALI), PT PP London Sumatera Tbk (LSIP), PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), PT Tambang Batubara (PTBA), dan PT Timas Tbk (TINS).
IHSG pada perdagangan hari Jumat (27/6/2008) ditutup melemah 18,78 poin atau 0,80 persen ke 2.332,11. Sementara, indeks LQ45 turun 5,10 poin ke 492,07 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 3,90 poin ke 427,55.
Rupiah Nantikan Data Moneter
JAKARTA - Pelaku pasar pada awal perdagangan Senin (30/6/2006), diproyeksikan akan menanti data moneter yang baru akan dikeluarkan pekan ini.
Data yang akan mempengaruhinya, yakni data inflasi yang baru akan dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Selasa 1 Juli besok dan kebijakan BI rate yang pada 3 Juli pertengan pekan ini.
Kendati menanti data moneter, namun rupiah masih akan berpotensi menguat. Menyusul sikap Bank Indonesia (BI) yang akan menjaga rupiah dari terpaan pasar valas global. Sikap bank sentral ini juga ditujukan bagi penyeimbang dari tekanan inflasi yang terasa tinggi pada Juni ini.
Jika dilihat dari pergerakan rupiah pekan lalu, proteksi BI ini terbukti dari pergerakan mata uang garuda pada pekan lalu. Pada perdagangan Senin 23 Juni lalu, rupiah ditutup di posisi Rp9.260 per USD. Nyatanya, pada akhir pekan 27 Juni lalu, rupiah langsung menguat di posisi Rp9.210 per USD. Artinya, rupiah bergerak pada rentang yang luas.
Uniknya, penguatan ini terjadi di tengah tingginya harga minyak mentah dunia ke level tertinggi sepanjang sejarah, USD142,99 per barel. Apabila tidak dijaga BI, maka rupiah sudah pasti terpental di atas Rp9.300 per barel. Pasalnya, perusahaan pelat merah seperti PT Pertamina dan PT Perusahan Listrik Negara (PLN) membutuhkan banyak dolar Amerika Serikat untuk membeli kebutuhan minyak.
Penguatan ini tidak dialami oleh rupiah seorang diri. Rupiah masih diselamatkan dengan pelemahan USD. Sehingga, mata uang negara lainnya seperti euro, poundsterling, dan yen juga menjadi kuat. Apalagi mata uang emerging market, yang tingkat suku bunganya masih tinggi.
Data yang akan mempengaruhinya, yakni data inflasi yang baru akan dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Selasa 1 Juli besok dan kebijakan BI rate yang pada 3 Juli pertengan pekan ini.
Kendati menanti data moneter, namun rupiah masih akan berpotensi menguat. Menyusul sikap Bank Indonesia (BI) yang akan menjaga rupiah dari terpaan pasar valas global. Sikap bank sentral ini juga ditujukan bagi penyeimbang dari tekanan inflasi yang terasa tinggi pada Juni ini.
Jika dilihat dari pergerakan rupiah pekan lalu, proteksi BI ini terbukti dari pergerakan mata uang garuda pada pekan lalu. Pada perdagangan Senin 23 Juni lalu, rupiah ditutup di posisi Rp9.260 per USD. Nyatanya, pada akhir pekan 27 Juni lalu, rupiah langsung menguat di posisi Rp9.210 per USD. Artinya, rupiah bergerak pada rentang yang luas.
Uniknya, penguatan ini terjadi di tengah tingginya harga minyak mentah dunia ke level tertinggi sepanjang sejarah, USD142,99 per barel. Apabila tidak dijaga BI, maka rupiah sudah pasti terpental di atas Rp9.300 per barel. Pasalnya, perusahaan pelat merah seperti PT Pertamina dan PT Perusahan Listrik Negara (PLN) membutuhkan banyak dolar Amerika Serikat untuk membeli kebutuhan minyak.
Penguatan ini tidak dialami oleh rupiah seorang diri. Rupiah masih diselamatkan dengan pelemahan USD. Sehingga, mata uang negara lainnya seperti euro, poundsterling, dan yen juga menjadi kuat. Apalagi mata uang emerging market, yang tingkat suku bunganya masih tinggi.
AAJI Sambut Positif Penambahan Instrumen Investasi
JAKARTA - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyambut positif perluasan dana jaminan ke surat utang dan surat berharga yang dikeluarkan pemerintah.
Hal ini dinilai semakin menambah instrumen investasi di kalangan industri asuransi. "Itu sangat bagus untuk industri," ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Eddy KA Berutu di Jakarta. Selama ini, dana jaminan memang hanya berada pada bentuk investasi seperti deposito.
Namun, setelah diterbitkan PP No PP No 39/2008 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian, diatur bahwa penempatan dana jaminan bisa diperluas ke surat berharga yang dikeluarkan pemerintah.
Eddy menilai, perluasan instrumen itu dinilai perlu agar perusahaan mendapatkan hasil yang lebih optimal. Perluasan bentuk investasi ke surat berharga yang dikeluarkan pemerintah juga memiliki kepastian tingkat keamanan sehingga tidak perlu khawatir akan terjadi hal yang negatif.
Dia mencontohkan, surat utang negara (SUN) yang dijamin negara mengandung unsur keamanan yang ketat pula. Anggota Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kapler A Marpaung mengusulkan angka dana jaminan maksimal hanya 10 persen dari modal setor. Hal ini dilakukan agar seluruh pelaku industri tidak merasa keberatan dengan peraturan dana jaminan 20 persen yang dinilai masih terlalu tinggi.
Sementara di sisi lain, ada keterbatasan pelaku industri melakukan diversifikasi investasi. Direktur Utama PT Asuransi Binagriya Upakara ini juga mengkritisi keberadaan dana jaminan yang hanya berasal dari satu bank tertentu. "Kalau seizin Menkeu dana jaminan itu tidak harus dari bank mana, maka jangan lagi diatur ke bank yang ada afiliasi," tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatawarta mengatakan, kebijakan perluasan penempatan dana jaminan dibuat berdasarkan masukan dari pelaku industri.
Nantinya, dana jaminan tetap akan ditempatkan pada deposito berjangka dengan perpanjangan otomatis pada bank umum di Indonesia yang bukan afiliasi dari perusahaan yang bersangkutan.
Selain itu, dana jaminan juga ditempatkan di surat utang atau surat berharga lain yang diterbitkan pemerintah. Pasal 7 PP No 39 menyebutkan perusahaan asuransi dan reasuransi harus memiliki dana jaminan sekurang-kurangnya 20 persen dari modal disetor minimum atau 20 persen dari modal sendiri minimum. Dana jaminan merupakan jaminan terakhir dalam rangka melindungi kepentingan pemegang polis.
Hal ini dinilai semakin menambah instrumen investasi di kalangan industri asuransi. "Itu sangat bagus untuk industri," ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Eddy KA Berutu di Jakarta. Selama ini, dana jaminan memang hanya berada pada bentuk investasi seperti deposito.
Namun, setelah diterbitkan PP No PP No 39/2008 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian, diatur bahwa penempatan dana jaminan bisa diperluas ke surat berharga yang dikeluarkan pemerintah.
Eddy menilai, perluasan instrumen itu dinilai perlu agar perusahaan mendapatkan hasil yang lebih optimal. Perluasan bentuk investasi ke surat berharga yang dikeluarkan pemerintah juga memiliki kepastian tingkat keamanan sehingga tidak perlu khawatir akan terjadi hal yang negatif.
Dia mencontohkan, surat utang negara (SUN) yang dijamin negara mengandung unsur keamanan yang ketat pula. Anggota Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kapler A Marpaung mengusulkan angka dana jaminan maksimal hanya 10 persen dari modal setor. Hal ini dilakukan agar seluruh pelaku industri tidak merasa keberatan dengan peraturan dana jaminan 20 persen yang dinilai masih terlalu tinggi.
Sementara di sisi lain, ada keterbatasan pelaku industri melakukan diversifikasi investasi. Direktur Utama PT Asuransi Binagriya Upakara ini juga mengkritisi keberadaan dana jaminan yang hanya berasal dari satu bank tertentu. "Kalau seizin Menkeu dana jaminan itu tidak harus dari bank mana, maka jangan lagi diatur ke bank yang ada afiliasi," tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatawarta mengatakan, kebijakan perluasan penempatan dana jaminan dibuat berdasarkan masukan dari pelaku industri.
Nantinya, dana jaminan tetap akan ditempatkan pada deposito berjangka dengan perpanjangan otomatis pada bank umum di Indonesia yang bukan afiliasi dari perusahaan yang bersangkutan.
Selain itu, dana jaminan juga ditempatkan di surat utang atau surat berharga lain yang diterbitkan pemerintah. Pasal 7 PP No 39 menyebutkan perusahaan asuransi dan reasuransi harus memiliki dana jaminan sekurang-kurangnya 20 persen dari modal disetor minimum atau 20 persen dari modal sendiri minimum. Dana jaminan merupakan jaminan terakhir dalam rangka melindungi kepentingan pemegang polis.
Qatar Tolak Menaikkan Produksi Minyak
Jakarta:Qatar menyatakan tidak akan menaikkan produksi minyak mentahnya. Menteri Perminyakan Qatar Abdullah bin Hamas Ak Attiyah mengatakan, pasokan minyak mentah di pasar masih aman sehingga tidak perlu panik hanya karena harga minyak yang tinggi.
Sebelumnya, Arab Saudi akan menaikkan produksi minyak sebanyak 200.000 barel pada Juli mendatang. Negara arab lainnya akan menambah produksi minyaknya adalah Uni Emirat Arab dan Kuwait. Keputusan Qatar tersebut mengakibatkan harga saham di bursa Amerika merosot tajam akhir pekan lalu.
Kalangan analis memperkirakan harga minyak bisa menembus US$ 200 per barel. Lonjakan harga minyak disebabkan tingginya permintaan dan terbatasnya produksi minyak dunia.
Sebelumnya, Arab Saudi akan menaikkan produksi minyak sebanyak 200.000 barel pada Juli mendatang. Negara arab lainnya akan menambah produksi minyaknya adalah Uni Emirat Arab dan Kuwait. Keputusan Qatar tersebut mengakibatkan harga saham di bursa Amerika merosot tajam akhir pekan lalu.
Kalangan analis memperkirakan harga minyak bisa menembus US$ 200 per barel. Lonjakan harga minyak disebabkan tingginya permintaan dan terbatasnya produksi minyak dunia.
Harga Minyak Tekan Pergerakan Indeks Saham
Jakarta:Pergerakan indeks saham pada perdagangan hari ini, Senin (30/6), diperkirakan masih dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia. Analis Sinar Mas Sekuritas Alfiansayah mengatakan tingginya harga minyak memberikan pengaruh negatif pergerakan indek di lanti bursa. "Faktor eksternal masih menjadi pemicu utama tertekannya indeks," katanya kepada Tempo.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga minyak dunia sudah menyentuh level US$ 140 per barel. Harga minyak diperkirakan masih akan mengalami kenaikan akibat tingginya permintaan.
Faktor internal, kata dia, seperti nilai rupiah tidak akan banyak mempengaruhi pergerakan indek saham. Saham-saham yang akan tetap stabil dan bakal naik adalah saham sektor pertambangan. Alasannya, komoditas tambang saat ini sedang mengalami kenaikan dari sisi permintaan dan harga. "Sebaiknya ambil saham ini saja," katanya.
Alfiansyah memperkirakan saham PT Antam Tbk., dan PT Inco Tbk., diperkirakan bakal mengalami kenaikan harga.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga minyak dunia sudah menyentuh level US$ 140 per barel. Harga minyak diperkirakan masih akan mengalami kenaikan akibat tingginya permintaan.
Faktor internal, kata dia, seperti nilai rupiah tidak akan banyak mempengaruhi pergerakan indek saham. Saham-saham yang akan tetap stabil dan bakal naik adalah saham sektor pertambangan. Alasannya, komoditas tambang saat ini sedang mengalami kenaikan dari sisi permintaan dan harga. "Sebaiknya ambil saham ini saja," katanya.
Alfiansyah memperkirakan saham PT Antam Tbk., dan PT Inco Tbk., diperkirakan bakal mengalami kenaikan harga.
Jumat, 27 Juni 2008
Memilah Saham di Tengah Tekanan
Investor akan memilah-milah saham unggulan yang aman dikoleksi untuk menyiasati gejolak di lantai bursa. Saham-saham energi diprediksi akan kembali atraktif mengikuti tingginya harga minyak dunia.
Alhasil, pada perdagangan saham akhir pekan Jumat (27/6/2008) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan mengalami tekanan bahkan bisa negatif terimbas Wall Street.
Saham-saham perbankan masih akan menjadi sasaran pembelian selektif pelaku pasar.
Pada penutupan perdagangan saham Kamis kemarin (26/6/2008), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 9,530 poin (0,41%) menjadi 2.350,892
Sementara saham di Wall Street pada penutupan perdagangan Kamis waktu AS anjlok karena sentimen harga minyak yang sempat di atas US$ 140 per barel.
Indeks Dow Jones anjlok 358,41 poin (3,03%) menjadi 11.453,42, Nasdaq turun 79,89 poin (3,33%) menjadi 79,89 dan S&P 500 turun 38,82 poin (2,94%) menjadi 1.283,15.
Langganan:
Postingan (Atom)
